Aih, Surat Kabar Bekas

0
15.24
Hari itu hari Jum’at. 

Iya, hari jumat dimana kita para muslim diwajibkan untuk lebih bersyukur dan lebih giat melangkahkan kaki pergi ke mesjid untuk beribadah. Menunaikan ibadah shalat Jum’at tentu saja. 

Sudah seharusnya, sholat Jum’at itu dilaksanakan di mesjid-mesjid besar. Iya, kalian tahu kan, kalau sholat Jum’at itu harus berjamaah? Oleh karena itu, karena saya ingin berjamaah, maka berangkatlah saya ke Mesjid Salman ITB.
 Bandung tengah hari itu macet, kawan. Macet oleh mobil dan motor tentu saja, bukan oleh Unta. Karena ini kotanya Pak Dada Rosada, bukan Saudi Arabia.

Mungkin karena sebab itulah, saya telat datang ke Salman ITB. Disana, beratus jamaah sudah mengantre. Mengantre untuk menitipkan sandal sepatu, mengantre untuk berwudhu, tapi percayalah, tak ada yang antri untuk bertayamum, karena kalian tahu sendiri kaan? Air masih banyak, buat apa Tayamum? Sok aya-aya wae ah (ada-ada saja). 


 Hukum alam pun berkata, yang datang telat, wayahna (wayahna itu bahasa Sunda, kawan. yang artinya mengalah atau lapang dada) harus pasrah untuk bersujud di luar mesjid bukan di dalam mesjid seperti mereka yang datang tepat waktu. 

Dan jadilah saya orang yang masuk dalam kategori ‘wayahna’ itu. Duduk bersimpuh di depan toilet mesjid, karena itu dia, di dalam sudah penuh. Malangnya, saya tak bawa sajadah. #Pedih #HayangCeurik 
Ketika dilanda kegundah-gulanaan itu, pertolongan Allah pun datang. Bukan, pertolongan datang bukan lewat Pak Dada Rosada (kan Pa Dada mah lagi sibuk benerin jalan Bandung yang rusak).
Tapi pertolongan itu datang lewat Tukang Koran Bekas.

Melihat saya yang bersila tanpa alas, Si Mamang Tukang Koran Bekas itu tergopoh-gopoh menghampiri saya untuk kemudian berujar..

“A, Korannya, A. Buat Sejadahnya...”  

Eh, Sabarahaan Mang?” (Berapa harganya, Mang?)

Si Mamang langsung sibuk mengambil  4 helai dari tumpukan koran yang diapit dengan tangan kirinya.
“Ieu A, opat lembar, sarebu weh kanggo Aa mah.” (ini A, seribu dapat 4 lembar.)

Namanya jg koran bekas, dari ke-4 lembar tersebut semuanya dari media yang berbeda. Satu dari Pikiran Rakyat, satu dari Galamedia, sementara yang dua lembar lagi ada tulisan KOMPAS-nya.

Saya langsung merogoh saku, Ah alhamdulilah, ada satu lembar uang seribu di dalamnya. Sambil mengasongkan uang seribu, saya pun berterima kasih pada Si Mamang penjual Koran.

“Oh, Nuhun pami kitu mah, Mang. Kaleresan saya teu nyandak sajadah.” (makasih ya, Mang. Kebetulan saya ga bawa sajadah).

“Muhun A, Sami-sami.” (Iya A, sama-sama) Kata Si Mamang Koran, sambil beranjak pergi.
Setelah mendapatkan koran bekas tersebut, saya pun solat sunat 2 rokaat dulu. Beres solat sunat, khotib belum juga khutbah.

Ya sudah, sambil menunggu, saya baca juga itu koran bekas. Di baca dengan seksama tentu saja, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tengkyu Mamang Koran, dengan uang seribu, saya membeli satu barang, tapi dengan manfaat ganda. Untuk sejadah bisa, untuk dibaca juga bisa. 

Ada yang unik saat kita membaca sebuah surat kabar bekas. Kita tidak pilih-pilih berita atau artikel mana yang akan kita baca. Karena hanya beberapa lembar saja (apalagi korannya dari media yang berbeda-beda), kita menjadi tidak terlalu pilih-pilih. Apa yang dipegang, itu yang dibaca. Kalau tidak suka, ya udah, jangan dibaca. Hehe...

Ketika saya membolak-bolik 4 lembar koran bekas tersebut, memang mayoritas artikel tak terlalu menarik. Tapi akhirnya, ketika membalik lembaran terakhir, ada satu artikel yang membetot perhatian saya. Dan disanalah pencarian saya berakhir. 

Kalian penasaran itu artikel tentang apa?
 
Oke saya beritahu, artikel itu isinya tentang “bagaimana cara menyikapi musibah”.

Kalau dilihat dari tanggalnya sih, ini artikel lama. Tapi isinya, ternyata tak lekang dimakan usia.
Karena khotib belum juga naik mimbar, saya baca kembali itu artikel dari awal. Dan masya Allah, ini artikel yang sungguh keren dan sarat akan hikmah. 

Bukannya berlebihan, tapi jujur saja, pikiran saya menjadi terbuka setelah membaca dan meresapi isi dari artikel tersebut. Artikel dari koran bekas tersebut.

Lama kelamaan, saya pun sadar.....

Ternyata, yang bekas itu tak selamanya tak berguna.

Yang bekas itu tak sepatutnya untuk selalu dibuang.

Dan ternyata, kalau kita bisa melihatnya lebih dalam, yang bekas itu akan bisa memberi manfaat lebih, tergantung bagaimana kita ‘mengemasnya’. 

:)

-Deden Hanafi-
12: 36 ----- 16 Juni 2012
(Ditulis di Bandung , di haribaan kost-an. Karena di luar sedang terik.)

About the author

Ditulis oleh Baladen Haneef. Maaf bila subjektif. Tak ada niat sedikitpun untuk menggurui.

0 comments: