Catatan Singkat Tentang Lapar

0
08.24
"Jangan telat makan nak, nanti salatri, lho."

Kata kata itu selalu disampaikan ibu, bila saya belum juga menyantap nasi (dan lauknya tentu saja) yang telah beliau siapkan. Untuk yang belum tahu, salatri itu bahasa Sunda, kawan. Kurang lebih kalau di-Indonesia-kan itu artinya: perut melilit karena lapar.

Sebenarnya ibu tidak salah, mungkin karena rasa sayangnya yang begitu besar, beliau tak mau anaknya tepar karena telat makan. Ya, namanya juga ibu, Sob. Semua orang juga pasti tahu, kalau kasih sayangnya itu sepanjang masa. Kecuali ibu kota mungkin, itu lain lagi ceritanya.

Okeh, kembali lagi ke cerita awal.

Nasehat "Jangan telat makan, nak" ini mungkin tak hanya ibu saya saja yang menyampaikan pada anak-anaknya. Saya berani bertaruh, mungkin hampir 90% ibu di dunia ini... (eh, jangan di dunia deh, terlalu lebar) maksud saya ibu ibu di Indonesia pasti pernah atau sering berkata, "Jangan telat makan, Nak. nanti sakit."

ilustrasi

 Walhasil, karena tiap hari diingatkan, ungkapan “jangan-telat-makan-nak-nanti-sakit” ini pun mengendap di pikiran bawah sadar dan ke bawa hingga dewasa.

Ketika saya ga sarapan, rasa panik langsung melanda. Lemeees aja bawaannya.

Telat makan siang, galau.

Lupa makan sore... pingsan.

Oke, yang terakhir memang agak berlebihan. Maaf. Sebenarnya waktu itu saya ga lapar-lapar amat, cuma pikiran saya saja yang panikan.

Dan bila pikiran dilanda panik dan pikiran negatif, maka keluhan pun terbit. Sakit ini lah, sakit itu lah. Nah, dari sini saya belajar, kita harus pandai pandai mengolah pikiran. Iya, apapun, semuanya berawal dari mindset.

Tapi itu dulu, Kawan.

Seiring dengan berkembangnya badan dan pikiran, saya pun berhasil mendapatkan ilmu yang berkisah tentang manfaat dari rasa lapar. ilmu itu salah satunya saya baca dari twitnya @Tausiyahku. kurang lebih isinya seperti ini.

Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ rahimahullah bahwa dia berkata, “Siapa yang sedikit makannya dia akan bisa memahami, membuat orang lain paham, bersih, dan lembut. Sungguh, banyak makan akan memberati seseorang dari hal-hal yang dia inginkan.”

Kemudian Diriwayatkan dari Utsman bin Zaidah rahimahullah, dia berkata bahwa Sufyan ats- Tsauri rahimahullah pernah mengirim surat kepadanya, isi dari surat itu diantaranya adalah, “Apabila engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit (tidak mudah mengantuk), maka kurangilah makan.”

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Siapa yang menjaga perutnya, dia bisa menjaga agamanya. Siapa yang bisa menguasai rasa laparnya, maka dia akan memiliki akhlak yang terpuji. Sungguh, kemaksiatan akan jauh dari orang yang lapar, dekat dengan orang yang kenyang. Rasa kenyang akan mematikan hati. Akan muncul pula darinya rasa senang, sombong dan tawa.”

Kemudian diriwayatkan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah, “Jika jiwa merasakan lapar dan dahaga, kalbu akan bersih dan lembut. Jika jiwa merasakan kenyang dan puas minum, kalbu menjadi buta.”
Dan asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan bahwa, “… Rasa kenyang akan memberati badan, menghilangkan kewaspadaan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan pemiliknya dari beribadah.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, hlm. 576—577)

Nah, jadi seperti itulah, Kawan. Bila suatu saat nanti kamu telat makan,jangan dulu panik dan buru-buru nongkrong di warteg. Karena seyogyanya, lapar itu sehat. Beruntunglah kita yang muslim punya kewajiban puasa tiap ramadhan.

Harusnya puasa sunah juga mulai rutin dari sekarang. #notetoself
---

Subang, 30 Januari 2014. Ditulis saat fajar mulai menyingsing dan saat tukang nasi uduk dan serabi mulai menjemput rizki.

About the author

Ditulis oleh Baladen Haneef. Maaf bila subjektif. Tak ada niat sedikitpun untuk menggurui.

0 comments: