4 Cara Melatih Pola Pikir

0
12.03

Setelah menjalani hidup kurang lebih 26 tahun, akhirnya saya sadar, bahwa apapun yang kita lakukan, apapun yang kita inginkan, dan bahkan apapun yang kita hasilkan, semuanya bergantung pada pola pikir.

Kata guru ngaji saya juga, kalau inginkan hasil yang baik:

1. Pikirkan yang baik
2. Lakukan yang baik
3. Harapkan yang baik

Tuh kan, awalnya, pola pikir dulu yang harus diperbaiki.

Ngomong ngomong tentang pola pikir, kemarin saya membaca satu thread bagus di Kaskus. Akun yang bikin thread tersebut, namanya theunlearnid. Dengan bahasa yang enak dibaca, theunlearnid menjelaskan bagaimana cara melatih pola pikir agar kita bisa mendapatkan hidup yang lebih baik.

Begini kata beliau (ane copas langsung ya man-teman, supaya kita sama sama belajar):

 “Kalau ada satu buku yang menurut saya praktis dan juga penuh dengan wisdom, buku itu adalah The Four Agreements karangan Don Miguel Ruiz. Sangat praktis karena kalau kita mengaplikasikan 4 hal ini dalam keseharian, terasa sekali bagaimana hidup kita bisa berubah. Namun, praktis tidak berarti mudah. Karena hidup kita sudah terkondisikan sedemikian rupa sebagai ‘orang dewasa’ sehingga banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang harus kita tanggalkan terlebih dahulu sebelum bisa merasakan perubahannya.

“Kalau kata Om Ruiz, kita butuh niat yang sangat kuat untuk bisa mengaplikasikan 4 Persetujuan ini. Tetapi, kalau kita bisa, maka akan terjadi suatu transformasi yang luar biasa. Kita akan mulai melihat drama hilang dari kehidupan kita dan mulai menciptakan surga di dunia.Wow. Masa sih om? Dibuat penasaran juga sih.”

Apa gunanya 4 Agreements ini?

Untuk melepaskan kita dari The Domestification of Human.

Apa om? Apa itu?

Tanpa kita sadari, seumur hidup kita, kita telah menerima berbagai macam informasi dari ayah, ibu, guru, teman, lingkungan yang akhirnya membentuk kepercayaan dan juga pola pikir kita. Kita diajarkan bagaimana hidup yang ‘benar’ dan perilaku-perilaku apa yang ‘benar’ juga. Kita memiliki konsep benar dan salah, dan akhirnya belajar untuk mulai menghakimi, baik ke diri sendiri dan juga orang lain. Banyak sekali peraturan-peraturan yang diajarkan ke kita melalui sistem reward dan punishment. Yang akhirnya kita belajar untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan reward (walaupun hanya untuk mendapatkan perhatian) dan takut terhadap penolakan. 

Kita telah banyak menerima berbagai agreements, peraturan, kondisi yang sebenarnya belum tentu sesuai ataupun kita setujui. Kita telah di domestifikasi (dijinakkan), seperti binatang liar yang sudah lupa terhadap jati diri dan instingnya.

#1: Be Impeccable With Your Word
 Gunakan kata-kata dengan integritas. Katakan hanya apa yang benar-benar kamu maksudkan. Hindari penggunaan kata-kata yang merendahkan diri sendiri ataupun orang lain, termasuk gosip. Gunakan kata-kata untuk mengekspresikan kejujuran dan kasih sayang.

Apa yang kamu katakan bisa mengubah hidupmu. Begitu kuatnya kata-kata, ia bisa mengubah dunia menjadi lebih baik ataupun menghancurkannya.

Impeccable artinya “without sin” – tanpa dosa, dimana dosa disini maksudnya adalah hal-hal yang kita lakukan yang bertolak belakang dengan diri kita sendiri, seperti menyalahkan atau menghakimi diri sendiri ataupun orang lain. Menjadi impeccable artinya kita mengambil tanggung jawab atas apa yang kita lakukan tanpa menyalahkan ataupun menghakimi diri kita ataupun orang lain. Ini sebabnya gosip adalah racun.

Dosa dimulai dengan membuat penolakan terhadap diri sendiri. Jadi setiap kali kita bilang “Aduh gue gendut banget ya. Gue bodoh banget deh. Gue gak mungkin bisa seperti itu. Gue jelek banget sih.” Itu artinya kita tidak impeccable.

Nah, 4 Agreements inilah yang bisa melepaskan kita dari domestifikasi tersebut. Dimana kita bisa kembali menemukan kekuatan diri kita yang sesungguhnya.

“When you are impeccable with your word, you feel good; you feel happy and at peace.”
Kita bisa mengukur impeccability dari kata-kata kita dari ukuran self-love. Kalau kita benar-benar mencintai diri kita sendiri, menyukai diri kita sendiri, ini terlihat dari kualitas dan integritas kata-kata kita. Karena orang yang mengasihi dirinya sendiri tidak akan menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Kalau kita sudah impeccable dengan kata-kata kita, kamu akan merasa lebih baik; merasa bahagia, dan damai. Rasanya tentram.

Ehm. *ketampar*

Karena selama ini sudah terbiasa kalau ngomong ya ngomong aja. Gak perlu dipikirin banget-banget gitu ya. Walaupun bercanda, tetapi selalu ada ‘truth’ dibalik becandaan itu. Setelah baca ini, saya jadi lebih hati-hati menggunakan kata.


#2: Don’t Take Anything Personally


Gak penting untuk merasa tersinggung. Gitu aja kok dimasukin hati.
Apapun yang terjadi di sekitarmu, gak usah dimasukin ke hati. Contohnya, kalau kita ketemu di jalan dan saya bilang, “Eh, elo goblok banget sih” tanpa mengenal dirimu terlebih dahulu… ini bukan tentang kamu; ini tentang saya. Kalau kamu tersinggung atau dimasukin ke hati, mungkin sebenarnya kamu percaya kalau kamu memang goblok. #eh Lalu mulai mikir “kok dia bisa tahu ya?”

Kalau kamu tersinggung atau sakit hati, artinya kamu setuju dengan apa yang orang lain katakan.

Oh juaraaaaaaaaaaaa!!!!

Tunggu, ada satu lagi nih.

Personal importance, or taking things personally, is the maximum expression of selfishness because we make the assumption that everything is about “me”.

“Personal importance, atau sakit hati ini adalah bentuk tertinggi dari keegoisan manusia karena kita berasumsi bahwa semuanya adalah tentang ‘SAYA’.”

Mau mati kan dengernya. Ini membuat saya berpikir, setiap kali saya tersinggung atau sakit hati, sebenarnya saya lagi egois. Lalu, tanpa disadari malah setuju dengan hal yang sebenarnya saya gak suka itu. Lalu, ngapain juga pake tersinggung. Apapun yang orang lain lakukan itu bukan tentang kita, tetapi tentang diri mereka sendiri.

Their actions are reflections of them. Not of us. Just like our actions are reflections of us.

*ketampar lagi*

Kalau kita masukin ke hati, artinya kita memakan semua sampah emosi orang tersebut yang sekarang jadi sampah kita juga. Tapi, kalau kita tidak take it personally, kita jadi kebal terhadap hawa neraka.

Kalau ada orang marah, itu cara mereka menghadapi apa yang terjadi dengan mereka. Kita hanya menjadi alasan untuk marah. Orang marah karena takut. Kalau kita tidak takut, tidak mungkin kita marah atau sebel sama orang lain. Kalau kita tidak takut, tidak mungkin kita merasa sedih atau iri.

Aaaarrrgggghhhh. Jadi selama ini sedih atau iri itu karena takut?

Jadi, kata Om Ruiz, kalau kita bisa melakukan Agreement no 1 dan 2 dengan baik, maka kita sudah menanggalkan 75% dari berbagai agreements sebelumnya yang telah membuat kita terjebak di neraka. Jadi, kita bisa saja ada di tengah-tengah neraka tetapi tetap merasakan ketentraman. 

-- Kepanjangan nih kayanya. lanjut di post dua ya teman-teman... :)

About the author

Ditulis oleh Baladen Haneef. Maaf bila subjektif. Tak ada niat sedikitpun untuk menggurui.

0 comments: