Filosofi Kerupuk

1
18.10
Kalau Mbak Dee punya filosofi kopi, maka saya juga ingin belajar berfilosofi, bukan tentang kopi, tapi ini tentang kerupuk. Iya, filosofi kerupuk.

Untuk yang lahir dan dibesarkan di tanah air yang sekarang dipimpin oleh Pak Jokowi ini, saya yakin, hampr 99% doyan dengan yang namanya kerupuk. Untuk 1% kaum yang tak suka, mungkin dia pernah mengalami pengamalan buruk, Seperti keselek saat lomba makan kerupuk atau mungkin ditampar mantan pakai kerupuk saat ketauan makan bareng selingkuhan di warteg langganan. Pedih, Jendral!

Untuk saya, kerupuk sudah seperti candu. Makan nasi, musti ada kerupuk. Makan mie ayam, musti ada kerupuk. Makan sayur, musti sedia kerupuk. lagi makan ketimun pun, harus ditemani kerupuk. Itu enak, serius, murah pula, walau bikin kenyang sih ngga.

Untuk kalian yang belum nyoba timun vs kerupuk, itu enak banget (apalagi kerupuknya dikecapin) kenikmatannya bisa melebihi mie ramen terlezat sekalipun. Lebay ya? Ya maap, gitu aja meuni marah. :)
Lanjut baca →

1 comments: