Filosofi Kerupuk

1
18.10
Kalau Mbak Dee punya filosofi kopi, maka saya juga ingin belajar berfilosofi, bukan tentang kopi, tapi ini tentang kerupuk. Iya, filosofi kerupuk.

Untuk yang lahir dan dibesarkan di tanah air yang sekarang dipimpin oleh Pak Jokowi ini, saya yakin, hampr 99% doyan dengan yang namanya kerupuk. Untuk 1% kaum yang tak suka, mungkin dia pernah mengalami pengamalan buruk, Seperti keselek saat lomba makan kerupuk atau mungkin ditampar mantan pakai kerupuk saat ketauan makan bareng selingkuhan di warteg langganan. Pedih, Jendral!

Untuk saya, kerupuk sudah seperti candu. Makan nasi, musti ada kerupuk. Makan mie ayam, musti ada kerupuk. Makan sayur, musti sedia kerupuk. lagi makan ketimun pun, harus ditemani kerupuk. Itu enak, serius, murah pula, walau bikin kenyang sih ngga.

Untuk kalian yang belum nyoba timun vs kerupuk, itu enak banget (apalagi kerupuknya dikecapin) kenikmatannya bisa melebihi mie ramen terlezat sekalipun. Lebay ya? Ya maap, gitu aja meuni marah. :)

Di Nusantara tercinta, tak hanya bahasa yang beraneka ragam, Negara ini juga memiliki keanekaragaman kerupuk. Seperti: Kerupuk udang, kerupuk mie, kerupuk kulit (ini yang sering dipelesetin kalau kulitnya dari kulit sunat. Haha), daan lain sebagai nya. Bahkan di daerah saya (Subang, Jawa Barat) ada yang namanya kerupuk melarat. Ini kenapa dibilang melarat, Karena unik, bray. Digorengnya ga pake minyak, tapi pake pasir. Iye makanya dibilang kerupuk melarat, kaga kebeli minyak mungkin dulu sejarahnya. Hehe.. tapi positifnya, ini kerupuk bagus untuk yang lagi diet, karena minim kolestrol katanya. :)) Ga percaya? Main ke Subang makanya.

Ternyata, selain enak dan mudah didapat,saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari si kerupuk ini. Lagi makan di warteg,saya pandangi ini si kerupuk anteng-anteng. Iya juga ya Puk, kita udah temenan lama, tapi gue belajar sesuatu dari lu baru sekarang.

Kerupuk adalah barang yang sepele, tapi untuk saya dan mungkin untuk sebagai orang Indonesia, makan tanpa kerupuk itu bagaikan grup soneta tanpa Pak Haji Rhoma Irama.Hambar dan serasa ada yang kurang.

Mungkin kalau si kerupuk bisa ngomong, dia akan berujar,

“Hey, okelah gue lu anggap remeh. Gue juga ga bergizi-bergizi amat. Tapi makan tanpa gue, lu merasa ada yang kurang kan? Hehehe..”

Pake acara ketawa segala lagi dia.

Sama seperti kerupuk, banyak hal hal yang sering kita anggap sepele, tapi kalau itu ngga ada, kita akan benar benar merasa kehilangan, dan akan berpikiran: iya ya, harusnya saya mensyukurinya.

Ketika ditimpa problema hidup atau tekanan di pekerjaan, kita kadang berkeluh kesah. Padahal, kalau dihitung hitung, sebesar dan seberat apapun musibah yang menimpa, nikmat yang Allah beri, jauuuh lebih besar. Imbasnya, kita lupa bersyukur atau bahkan malah berburuk sangka pada yang kuasa.

Untuk yang sekarang sehat, mungkin lu nganggap kesehatan adalah hal yang biasa. Hal yang sepele. 

Tapi ketika kesehatan itu direnggut, kita tumbang dan harus nginep 3 hari rumah sakit,baru dah kita akan berpikiran: “iya ya, dulu gue lupa bersyukur.”

Untuk yang sekarang lagi kerja, mungkin kita mengganggap sepele itu pekerjaan, malah kadang kita membencinya. Tapi setelah kita ngobrol dengan teman yang kesana kemari nyari kerja dan sampe sekarang masih nganggur juga, pasti lu kan berkata dalam hati:”iya ya, harusnya gue bersyukur.”

Untuk yang sekarang lagi berumah tangga, kadang kita suka pusing dengan istri yang hobinya ngomel, tentang anak yang kadang bandel, tentang rumah yang sering kayak kapal pecah, Tapi setelah kita dengar keluhan teman yang susah cari jodoh atau teman yang sampai sekarang belum dikasih keturunan, masa sih lu ga berpikir, : “Iya ya, harusnya gue bersyukur.”

Sebagai manusia, kita kadang selalu merasa kurang, bahkan kita suka cemas, “ini gaji cukup ngga yak untuk satu bulan?” Padahal kalau kata Syekh Muhammad al-Ghazali (Penulis buku best-seller Jaddid Hayatak): "Orang yang takut miskin sesungguhnya sudah miskin. Orang yang takut hina sesungguhnya sudah hina."

Ketahuilah, merisaukan apa yang belum terjadi adalah sikap yang sangat keliru dan membinasakan. 

Seseorang kadang menduga-duga akan datangnya kesulitan dan masalah sehingga jiwanya terus diselimuti kegelisahan dan kepanikan.

Seorang dokter bernama Dr. Walter Clement Alvarez berkata, “Empat dari setiap lima pasien saya menderita penyakit yang tidak semata-mata akibat gangguan fisik, tetapi juga oleh rasa takut, cemas, emosi berlebihan, kehilangan kendali dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan social.”

Dari perkataan dokter itu kita belajar, kalau mayoritas penyakit fisik ternyata berasal dari pola pikir yang salah. Takut, cemas, emosi berlebihan, kehilangan kendali merupakan imbas dari kurangnya rasa syukur.

Padahal Rasulullah pernah  bersabda, “Barang siapa yang memasuki pagi hari dengan perasaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seisinya telah menjadi milik dia.” HR.al-Tirmidzi.

“Ingatlah!” Kata Syekh Muhammad al-Ghazali, “Anda memiliki dunia seisinya ketika telah memiliki ketiga hal di atas, jangan pernah memandangnya remeh!”

Lanjut menurut Syekh Muhammad al-Ghazali , “Rasa aman, kesehatan dan kecukupan makanan untuk hari ini (Untuk hari ini ya, jangan terlalu merisaukan hari esok) adalah kekuatan besar yang mencerahkan akal sehingga bisa berpikir lurus dan tenang. :)

Akhirul kalam, bersyukurlah teman. Bersyukurlah walau dari hal yang (menurutmu) kecil seperti kerupuk sekalipun.



Subang, 25 December 2015

Dari temanmu... Deden Hanafi.

Salam Kriuk!

About the author

Ditulis oleh Baladen Haneef. Maaf bila subjektif. Tak ada niat sedikitpun untuk menggurui.

1 komentar: